PENGARUH PUPUK UREA TERHADAP PERTUMBUHAN BAWANG MERAH
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Bawang merah bahasa latinya disebut Allium ceva. Bawang merah pertama ditemukan di Syiria. Di Indonesia
zaman dahulu sudah lama mengenal bawang merah dan sampai sekarang pun masih
dipergunakan dan dimanfaatkan bagi orang-orang yang membutuhkan. Manfaatnya
sangat banyak terutama bagi ibu rumah tangga sebagai bumbu masakan, pumbuatan
kue dan bagi orang sakit sebagai obat-obatan.
Dari tahun ketahun bawang merah tersebut terus
berkembang dan bertambah banyak karena setiap negeri ataupun desa sudah ada
oang yang menanamnya akan tetapi penanaman bawang merah tersebut tergantung
pada iklim dan tempatnya. Dalam penanamannya, bawang merah juga memerlukan
pupuk, karena pupuk sangat besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan bawang merah.
Pertumbuhannya akan menjadi lebih baik dan subur jika bawang merah tersebut di
beri pupuk.
1.2
Rumusan Masalah
Mengacu pada latar belakang, maka dari itu kami ingin
meneliti/melihat pengaruh pupuk terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah, dengan permasalahan
sebagai berikut :
1.
Bagaimana pengaruh pupuk
terhadap pertumbuhan bawang merah ?
1.3 Hipotesis
Pemberian pupuk urea terhadap tanaman bawang merah akan
mempercepat pertumbuhannya.
1.4 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui jenis pupuk yang cocok akan cepatnya
pertumbuhan bawang merah.
1.5 Manfaat Penelitian
Memberikan informasi bagi siswa mengenai pertumbuhan
bawang merah jika diberikan pupuk yang berbeda.
BAB
II
LANDASAN
TEORI
2.1Ekomorfologi
Bawang Merah
Bawang merah
merupakan tanaman semusim, berakar serabut, daun berbentuk silindris, membentuk
rumput, pangkal daun saling membungkus dan membekang membentuk umbi lapis.
Bagian yang bengkak berisi cadangan makanan untuk persediaan makanan bagi tunas
yang akan tumbuh menjadi tanaman baru, sejak mulai tunas hingga keluar akar
baru (Wibowo, 1988).
Bagian atas bengkakan (umbi) mengecil kembali dan tetap saling
membungkus bentuk batang semu. Sementara bagian bawah umbi berbentuk cakram yang merupakan batang pokok
yang tidak sempurna (rudimeter). Pada bagian bawah cakram tersebut tumbuh
akar-akar serabut, sedang di bagian atas cakram, diantara lapisan daun yang
membengkak, terdapat mata tunas (tunas leteral) yang dapat tumbuh menjadi
tanaman baru. (Wibowo 1988).
Bawang merah dapat di ditanam pada dataran rendah sampai dataran
tinggi yaitu pada ketinggian 0 sampai 900 m dpl dengan curah hujan 300 sampai
2500 mm per tahun. Pada ketinggian 800 sampai 900 m dpl, umbi yang terbentuk
lebih kecil dan berwarna kuning mengilap. Selain itu, umurnya labih lama
dibandingkan umur tanaman didataran rendah, ( Rahayu dan Berlian 1994).
Adanya fluktuasi
hasil sebagai akibat fluktuasi faktor lingkungan berkaitan dengan mekanisme
stabilitas penampilan tanaman. Pengembangan tanaman bawang merah diarahkan pada
kesesuaian faktor fisik lingkungan secara optimal. Dalam kaitan dengan hal
tersebut, ketersedian varietas yang sesuai dengan lingkungan setempat dan
berpotensi hasil tinggi merupakan faktor yang secara langsung mempengauhi daya
hasil dan varietas. (Erlina A, dan Prapto Y, 2003).
Iklim yang cocok untuk bawang merah
adalah iklim kering yang curah hujan dengan suhu udara panas terutama yang
mendapat sinar matahai dari 12 jam. Dalam Rahayu dan Berlian (2003) menyatakan,
daerah yang sesuai untuk pertumbuhan bawang merah adalah wilayah yang bersuhu
antara 25 sampai 32 ºC, dan kelembapan mencapai 80 – 90%. Tanaman bawang merah
yang ditanam di daerah yang suhu 22 ºC masih mudah untuk membentuk umbi, namun
hasilnya tidak sebaik jika di tanam di dataran rendah yang cerah dan panas.
Pada suhu 22 ºC, bawang merah sulit untuk berumbi atau bahkan tidak
dapat membentuk umbi (Wibowo 2005). Tanaman bawang merah menghendaki kondisi
tanah subur, gembur, banyak mengandung bahan organic, struktur tanah gumpal dan
bersifat poros dengan pH antara 5,5 –
6,5. Pada tanah asam (pH tanah dibawah 5,5), garam aluminium (Al) yang terlarut
dalam tanah bersifat racun sehingga tanaman bawang merah akan kerdil. Pada
tanah basa ( pH tanah diatas 6,5), garam mangan (Mn) tidak dapat diserap dan
digunakan oleh tanaman sehingga umbinya kecil dan hasilnya rendah (Sunaryo dan
Soedomo 1983).
2.2 Teknik Budidaya Bawang Merah
Di Indonesia
tanaman bawang merah telah lama di usahakan oleh petani sebagai usaha tani
komersial. Meskipun demikian, adanya permintaan dan kebutuhan bawang merah yang
terus meningkat setiap tahunnya belum dapat diikuti oleh peningkatan
produksinya. ( Erlina A, Prapto Y, 2003).
Bawang merah dapat
ditanam didataran rendah ataupun dataran tinggi, bawang merah juga merupakan
salah satu komoditas tanaman sayuran yang dapat di tanam di tanah-tanah tegalan
ataupun sawah (Sugeng 1983,5). Namun dengan demikian tidaklah sama dalam
tekinik budidayanya, secara umum teknik budidaya bawang merah meliputi persiapan
budidaya, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen, dan pasca panen.
Menurut Rahayu
dan V.A (2007) secara rinci teknik budidaya bawang merah hendaknya diawali
dengan persiapan budidaya yang meliputi, memperkirakan waktu penanaman,
hendaknya bawang merah di tanam pada daerah beriklim kering dengan suhu yang
agak panas dan cuaca cerah.
Untuk media tumbuh,
bawang merah menyukai tanah yang subur, gembur, dan banyak mengandung bahan
organic. Keasaman tanah (pH) yang paling sesuai untuk bawang merah adalah yang
agak asam sampai normal (6,0 – 6,8) (Rahayu dan V.A 2007).
Pengolahan tanah pada umumnya untuk tanaman sayuran adalah sama,
begitu pula untuk pengolahan tanah bawang merah di awali dengan
membajak/mencangkul lahan yang akan ditanami dan kemudian menggemburkannya.
Pembuatan bedengan merupakan pengolahan tanah tahap akhir, dengan membuat
parit-parit sebagai drainase diantara bedengan-bedengan dengan ukuran
disesuaikan komoditas yang akan dibudidayakan (Sugeng HR 1983). Pada umumnya
bedengan untuk tanaman sayuran berukuran 10 m x 1 m dengan tinggi bedengan
berkisar 10 – 15 cm. untuk tinggi bedengan dapat disesuikan dengan curah hujan,
semakin tinggi curah hujan sebaiknya bedengan lebih tinggi berkisar 15 – 20 cm.
Bedengan yang tinggi akan mudah kehilangan air, jadi pada musim
kurang air dengan evaporasi tinggi sebaiknya tinggi bedengan tidak terlalu
tinggi, dapat juga disesuaikan dengan ukuran lebar bedengan.
Selanjutnya proses
pemaneman hingga panen berturut-turut langkah perawatan yang diberikan berupa,
penyiraman, penyiangan, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit serta panen dan pasca
panen.
2.3
Media Tanah Bagi Bawang Merah
Tanah sangat vital peranannya bagi semua kehidupan di
bumi karena tanah mendukung kehidupantumbuhan dengan menyediakan hara dan air
sekaligus sebagai penopang akar. Struktur tanah yang berongga-rongga juga
menjadi tempat yang baik bagi akar untuk bernafas dan tumbuh. Tanah juga
menjadi habitat hidup bebrbagai mikroorganisme. Bagi sebagian besar hewan
darat, tanah menjadi lahan untuk hidup dan bergerak. (Wikipedia 2008).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya tidaklah terlepas dari
pengaruh struktur terhadap kapasitas air tanah, ketersediaan air yaitu selisih
antara air yang di tambat pada kapasitas lapang prosentasi layu tetap (Sanchez,
1992,117).
Kegembuan tanah
akan sangat dipengaruhi oleh perbandingan kandungan unsur-unsurnya. Tanah yang
berstektur lemah atau gembur, biasanya kandungan pasir (tanah slitnya) lebih
tinggi dibandingkan pasir litany (clay). Secara umum tekstur tanah terdiri atas
pasir liat dengan ukuran diameter lebih kecil dari 2 x 10-3 mm, pasir slit
dengan ukuran diameter berkisar 2 x 10-3 s/d 2 x 10-2 mm, dan tanah dengan
tekstur pasir (sand) biasanya ukuran diameternya mencapai 2 mm.
Tanah bertekstur
gembur memungkinkan terjadinya aerasi dan drainasi yang cukup baik. Bawang
merang akan tumbuh dengan baik pada kondisi tanah gembur. Disisi lain tanah
gembur akan lebih mudah mengikat unsur-unsur hara esensial bagi berlangsungnya proses
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Bawang merah juga merupakan salah satu komoditas sayuran dataran
rendah, (Erlina A. Prapto Y 2003).
BAB
III
METODELOGI
PENELITIAN
3.1 Tempat Penelitian
Didesa Blang Sapek, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan
Raya.
3.2 Hari/Tanggal
Selasa/3 – 17 September 2010. ( Berlangsung selama 15
hari).
3.3 Bahan yang Digunakan :
1.
Bawang merah
2.
Folibet
3.
Tanah
4.
Pupuk Urea
5.
Pupuk kandang
6.
Air
7.
Gayung
8.
Alat pengukur (Rol)
9.
Kamera
3.4
Cara Kerja
3.4.1
Sediakan bawang merah 9 biji
yang telah dikoleksi.
3.4.2
Sediakan Folibet 9 buah yang
berisi dengan tanah yang bagus dan ukuran yang sama.
3.4.3
Pada 3 folibet pertama diisi
pupuk urea, 3 folibet kedua diisi pupuk kandang, dan 3 folibet lagi diisi tanah
biasa.
3.4.4
Kesembilan folibet tersebut
dibagi menjadi 3 kelompok. Kelompok pertama diberi nama ABC, kelompok kedua
diberi nama DEF, Serta kelompok ketiga diberi nama GHI, dengan maksud agar
mudah ditandai. Kemudian setiap kelompok jangan terlalu berdekatan ditempatkan.
3.4.5
Tanamkan bawang tersebut,
setiap folibet 1 biji bawang merah dilakukan pada hari yang sama.
3.4.6
Setelah semuanya siap ditanam,
letakkan bawang merah yang sudah ditanam tadi pada tempat terbuka.
3.4.7
Lakukan penyiraman 1 kali
sehari pada sore hari.
3.4.8
Lakukan penelitian mulai hari
pertama dalam selang waktu 3 hari yang
dilakukan secara terus-menerus sampai hari ke-15. dan hasilnya dimasukkan ke
dalam tabel hasil pembahasan pada bab IV agar diketahui pertumbuhan yang baik
dengan penanaman pupuk yang berbeda.
3.5
Parameter yang Diukur
3.5.1
Tinggi batang
3.5.2
Jumlah daun.
BAB IV
ANALISA DATA
Tabel
4.1 Hasil Pengamatan terhadap Pertumbuhan Batang
|
No
|
Pot
|
Pertumbuhan Batang /
Mati (cm)
|
Jumlah (cm)
|
Rata-rata (cm)
|
|
Hari ke-5
|
Hari ke-10
|
Hari ke-15
|
|
1.
|
Pupuk Urea
|
I
II
III
|
Mati
Mati
Mati
|
Mati
Mati
Mati
|
Mati
Mati
Mati
|
-
-
-
|
-
-
-
|
|
2.
|
Pupuk Kandang
|
IV
V
VI
|
7
8
1
|
15
19
7
|
24
35
29
|
46
62
37
|
15,33
20,67
12,3
|
|
3.
|
Tidak ada Pupuk
|
VII
VIII
IX
|
6
5
1/2
|
16
13
8
|
30
27
30
|
52
45
38,5
|
17,33
15
12,83
|
Grafik Hasil Pengamatan terhadap Pertumbuhan Batang (Dalam Cm).
Berdasarkan Grafik di atas,
menunjukkan bahwa Pertumbuhan Batang dengan Pupuk Kandang Lebih Tinggi daripada
Pupuk Urea dan Tidak ada Pupuk.
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan terhadap Pertumbuhan Jumlah Daun
|
No
|
Pot
|
Pertumbuhan Jumlah Daun
|
Jumlah (cm)
|
Rata-rata (cm)
|
|
Hari ke-5
|
Hari ke-10
|
Hari ke-15
|
|
1.
|
Pupuk Urea
|
I
II
III
|
Mati
Mati
Mati
|
Mati
Mati
Mati
|
Mati
Mati
Mati
|
-
-
-
|
-
-
-
|
|
2.
|
Pupuk Kandang
|
IV
V
VI
|
6
9
3
|
10
15
8
|
10
18
16
|
26
42
27
|
8,67
14
9
|
|
3.
|
Tidak ada Pupuk
|
VII
VIII
IX
|
6
7
2
|
16
14
11
|
25
16
19
|
47
37
32
|
15,67
12,33
10,67
|
Grafik Hasil Pengamatan terhadap Pertumbuhan Jumlah Daun (Dalam Cm),
Berdasarkan grafik di atas,
menunjukkan bahwa Pertumbuhan jumlah daun dengan Tidak ada pupuk lebih banyak
daripada pupuk kandang dan pupuk urea.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah melakukan Penelitian dan Pengamatan pengaruh
pupuk urea terhadap pertumbuhan bawang merah, Kami dapat menyimpulkan bahwa :
1.
Hipotesis yang kami ajukan
dalam pengamatan ini adalah ‘Pemberian pupuk urea terhadap tanaman bawang merah
akan mempercepat pertumbuhannya.’
2.
Berdasarkan hasil pengamatan,
hasil hipotesis kami tersebut ditolak, karena hasil pengamatan yang kami
lakukan ternyata pemberian pupuk kandanglah yang mempercepat pertumbuhan bawang
merah.
3.
Berdasarkan hasil pengamatan
yang kami lakukan ternyata tanah biasalah yang dapat memperbanyak pertumbuhan
daun.
DAFTAR
PUSTAKA
Jati, Wijaya.2007.Aktif
Biologi untuk SMA/MA Kelas XII.Ganeca exact : Jakarta